Berdirinya Masjid Al Munawar tidak dapat lepas dari tokoh utama sang pendiri yakni bapak Subari yang berasal desa Pekalongan kecamatan Winong kabupaten Pati. Sebagai pegawai di bawah lembaga naungan Departemen Agama kabupaten yakni sebagai guru agama Islam di SD Negeri beliau, senantiasa berupaya mengedepankan pendidikan Islam di masyarakat. Pada tahun 1970 an, setelah menikah dengan Sri Indasah yang berasal dari desa Tanggel ( anak ke 6 dari 10 bersaudara dari pasangan Monah dan Sidiq bin Parto (Carik/Sek Des Tanggel saat itu) entah mengapa beliau memutuskan untuk memilih tinggal di dukuh Blibak desa Pulorejo, padahal di dukuh tersebut beliau juga tidak mempunyai kerabat atau tanah, sehingga layaklah bila dibilang sebagai pendatang.
Mungkin karena masyarakat dukuh Blibak yang saat itu masih kental dengan adat dan budaya non Islami membuat motivasi beliau memilih tinggal disitu. Dikatakan budaya non Islami dapat dilihat dari situasi sosial pada saat itu yang mana belum adanya masjid/musholla, bahkan sumur (tempat air) untuk keperluan sehari-hari saja tidak ada yang berani membuat dengan alasan kepercayaan bahwa barang siapa yang membuat sumur akan MATI. Sehingga untuk keperluan air sehari-hari mereka hanya mengandalkan sumur brumbung (Lubangan tanah yang lebarnya mencapai 15 meter) yang berada di dekat Punden Blibak). Punden Blibak adalah tempat menyajikan sesaji yang dinaungi pohon beringin yang sangat besar dengan diameter sebesar 30 meter. Kepercayaan akan punden yang masih bersifat klenik seakan menjadi identitas bekas peninggalan zaman Hindu dulu yang sampai sekarangpun masih ada sebagian kecil masyarakat yang mempunyai kepercayaan tentang hal itu. Sehingga bisa dikatakan, masyarakat Blibak saat itu mayoritas belum banyak mengetahui tentang shalat atau ajaran Islam.
Dengan membeli tanah milik Mbah Nyamat dekat punden Blibak, bapak Subari mendirikan rumah kecil seadanya yang terbuat dari pohon kelapa (glugu). Melihat tidak adanya Masjid/Musholla dan sumur untuk air wudlu, maka beliau berinisiatif mendirikan langgar/surau dengan diameter 4x5 di belakang rumahnya. (Maaf disebut langgar karena masyarakat zaman dulu terbiasa menyebut Musholla dengan kata Langgar). Sedangkan sumur dan sekaligus untuk air wudlu terletak di sebelah selatan rumahnya.
Dengan usaha yang mandiri, langgar dan sumur pun berdiri dengan seadanya. (Seadanya maksudnya: Lantai hanya tanah yang dilapisi plastik sedangkan atap dan dinding masih bersifat non permanen). Seiring dengan pergantian tahun, usaha yang dilakukan K.Subari pun membuahkan hasil dan ternyata masyarakat Blibak pun akhirnya banyak yang mengikuti kegiatan-kegiatan yang beliau adakan. Adapun kegiatan sore hari jam 5 untuk mengajari anak membaca Al Qur’an dan setelah shalat Magrib mengajar persolatan (cara orang shalat) yang diikuti oleh kaum muda,dewasa dan tua. (Masih teringat dalam benakku gambar orang shalat di dinding pintu rumah yang digunakan sebagai media pengajaran). Setelah jamaah cukup banyak dan sumur yang dibuat di sebelah selatan rumah runtuh karna hanya lubangan di tanah yang tepinya diberi bata merah yang ditumpuk, maka beliau berinisiatif membangun masjid di depan rumahnya dengan ukuran sekitar 7x8 meter. Sedangkan langgar yang berada di belakang rumah dipindah ke dukuh Bileng.
Dengan modal mandiri yakni dengan membuat bata merah sendiri sepulang mengajar dari madrasah maka beliau membangun masjid tersebut dengan ruang mimbar sempit. Pada tahun 1976 pun, masjid tersebut telah digunakan untuk shalat Jum’at dan mengaji anak-anak, dewasa dan tua dengan diberi nama masjid Al Munawar. Adapun dikala itu juga telah berdiri Madrasah Diniyah Al Munawar yang langsung diasuh oleh bapak Subari. Banyak anak-anak dari dukuh Bingung, Bileng, Puluhan dan desa Tanggel yang belajar di TPA tersebut. Selain itu juga telah diadakan perpustakaan umum dengan perpustakaan Al Munawar dengan koleksi buku dan kitab-kitab kuno.
Terbakarnya Masjid Al Munawar dukuh Blibak desa Pulorejo
Karena masyarakat Blibak telah terbiasa menyebut Langgar terhadap bangunan yang didirikan bapak Subari sebelum mendirikan mendirikan masjid. Maka masjid yang didirikan bapak Subari itupun akhirnya disebut dengan Langgar, bahkan sampai sekarang masih ada juga sebagian kecil masyarakat yang menyebut demikian. Walaupun telah dilakukan sosialisasi namun tetap demikian. Perkembangan zamanpun trus berganti, sehingga apabila ada pendatang baru ke daerah Blibak masih menganggap itu adalah sebuah Langgar. Hal tersebut karena pengaruh lingkungan dan enggan bertanya langsung kepada orang yang mengetahui seluk beluk Masjid Al Munawar.
Konflik pun bermunculan dikala itu, tepatnya pada tahun 1997 keadaan pohon beringin yang besar ( punden blibak ) mengalami pelapukkan/mati/gegar. Entah atas ide siapa, pohon beringin yang sudah mati tersebut dibakar orang sehingga menyebabkan kebakaran hebat. Karena dibakar pada siang hari sekitar jam 1 siang dengan cuaca yang panas dan angin yang kencang maka kobaran apipun makin membesar. Pohon besar dan menjulang tinggi tersebutpun mengobarkan api dan terbawa angin sehingga menyebar sampai dimana-mana. Tragedi puncaknya, ketika pohon tersebut roboh dan menghantam masjid al Munawar yang membuatnya luluh lantah terbakar api. Maka terbakar hanguslah masjid al munawar di kala itu. Dapat dbayangkan bagaimana hebohnya peristiwa tersebut. Dengan terbakarnya masjid Al Munawar maka kegiatan Madrasah Diniyah Al Munawar juga berhenti karena tiada tempat lagi. (masih teringat dibenakku peristiwa kebakaran tersebut, karena saya melihat langsung dari awal sampai apinya padam)
Setelah masjid terbakar maka para warga sekitar beserta perangkat desa melakukan musyawarah dengan memutuskan untuk donasi semampunya untuk mendirikan masjid Al Munawar. Entah atas ide siapa, kemudian muncul ide baru yakni untuk mendirikan masjid baru dan masjid al munawar dibiarkan begitu saja. Ide tersebutpun akhirnya menjadi kenyataan pula. Donasi dari masyarakat yang sudah diputuskan untuk membangun kembali masjid al Munawar berhenti di tengah jalan dan semua bantuan materi kemudian diarahkan untuk membuat masjid baru.
Disinilah akhirnya kebersamaan masyarakat dukuh Blibak pecah terbelah menjadi 2 blok yakni blok elor (masjid al Munawar) dan blok kidul (masjid baru). Atas kebersamaan blok elor maka sebagian masyarakat berupaya membangun kembali masjid al Munawar yang sampai kini masih tetap berdiri tegak di depan rumah bapak Subari.
(bersambung………….)
Kisah ini ditulis berdasarkan hasil wawancara langsung dengan para tokoh. Bila kawan, saudara mendapatkan info yang lebih jelas, kami mohon untuk dikonfirmasi demi kelengkapannya.
terima kasih kepada beliau bpk.K.SUBARI, karena atas jasa beliau masyarakat pulorejo khususnya dkh. mblibak jadi lbh mengerti tentang ilmu & ajaran islam. semoga Alloh SWT. menerima semua amal kebaikan & keikhlasan beliau, amin.
BalasHapustapi ada satu hal yang sangat saya harapkan dari para ulama & pemuka agama islam di dkh mblibak. betapa indah & mulianya jika antara masjid AL MUNAWAR & masjid AL IKHLAS bisa menyatu, agar umat islam di dkh. mblibak bisa bersatu kembali seperti saat aku masih kecil dulu. terima kasih, mudah2an ini bisa menjadi renungan buat kita bersama.